Awaluddin Ma’rifatullah (Awal agama itu adalah mengenal Allah)

Maknanya adalah bahwa tidaklah dapat dikatakan seseorang itu beragama dengan baik kalau proses keberagamaannya itu tidak diawali dengan sebuah pengenalan yang baik (ma’rifat) kepada Allah SWT.  Seseorang mungkin dianggap beragama tetapi ketika dia tidak mengenal akan Allah SWT maka keberagamaannya itu menjadi sangat lemah atau pada pendapat yang ekstrem dapat masuk ke area belum beragama karena dia tidak mengenal dengan Tuhan yang dia sembah.  Kalau tidak mengenal Tuhan yang dia sembah maka kemanakan penyembahannya itu dilakukan ? Kemanakah kehambaan itu dia arahkan ? pasti tak tentu arah dan ini tidak bisa diterima sebagai sebuah penyembahan dan kehambaan.

Mengenal (kenal) tidaklah sama dengan mengetahui (tahu).  Boleh jadi kita tahu dengan SBY tetapi kita tidak kenal dengan SBY.  Konsep kenal jauh lebih dalam ketimbang hanya sekedar tahu.  Dalam konsep kenal ada proses pertemuan yang cukup intens antara kedua pihak sehingga masing-masing mengetahui banyak hal yang membuat keduanya terhubung.  Proses ini kemudian menyebabkan antara kedua pihak saling tegur sapa, saling kenal pribadi, keluarga dan hal-hal lain yang memang telah disharing bersama kedua pihak.  Ini berbeda sekali konsep tahu.  Kita pasti tahu dengan SBY. Beliau adalah Presiden Republik Indonesia. Tetapi kita tidak kenal dengan SBY.  Ukurannya jelas. Ketika kita berpapasan dengan beliau, beliau mungkin saja acuh, mungkin saja beliau hanya senyum, mungkin saja beliau berbasa-basi. Tidak lebih. Tetapi kalau kita kenal dengan beliau, maka beliau pasti akan membalas sapa kita dengan pertanyaan yang sifatnya pribadi. Contoh, mungkin beliau akan menyapa : “eh pak Arif.. Bagaimana kabarnya pak ? Bagaimana kabar Asep putra pak arif yang kemarin dapat beasiswa ke luar negeri ? dan pertanyaan-pertanyaan lain yang sifatnya pribadi dan telah disharing sebelumnya dengan pa Arif ini.  Ini baru namanya kenal. Bukan sekedar tahu.  Demikian pula dengan Allah. Barangkali selama ini kita hanya Tahu Allah, tetapi tidak kenal dengan Allah. Kalau begitu bagaimana kita telah disebut beragama ?

Lalu bagaimana dengan konsep mengenal Allah (Ma’rifatullah) sebagaimana menjadi judul tulisan diatas ? Konsep ma’rifatullah adalah konsep bagaimana seseorang hamba mengenal Allah SWT.  Allah SWT memiliki Asma (nama), Af’al (perbuatan), Sifat, dan Zat. Keempat unsur ini harus dikenali oleh seorang hamba sehingga hamba tersebut akan dapat mengenal Allah SWT dengan Baik.

Asma Allah dapat dikenali dengan mempelajari tentang asmaul husna yang berjumlah 99 nama.  Setiap nama mewakili karakter yang menggambarkan Allah sesuai dengan nama-nama tersebut.  Contoh nama “Ar-rahman” memberikan gambaran bahwa Allah itu Maha Penyayang.  Bagaimana zat yang kepadanya diselendangkan kata Maha Penyayang maka seperti itulah Allah. Dengan Maha Rahman berarti Allah itu sangat menyayangi manusia. Rasa sayangnya meliputi kepada seluruh makhluk ciptaannya tanpa pandang bulu siapa atau apapun dia.  Allah juga bernama Ar-Razaq (Maha Pemberi Rezeki). Yang dengan RazaqNya tersebut Allah menjamin rezeki setiap makhluk tanpa terkecuali. Begitu banyak karakter Allah SWT yang dapat kita gali dan kenali dengan memahami Asma Allah.

Sifat Allah dapat kita kenali dengan belajar tentang sifat-sifat Allah, baik yang wajib maupun yang Mustahil bagi Allah. Pengenalan sifat-sifat Allah ini memerlukan pemikiran yang lebih tajam dari sekedar memahami Asma Allah SWT tadi.  Kita mengetahui Allah bersifat Wujud, Qidam, Baqa, Mukhalafatul lil hawadist, Qiyamuhu Binafsih, Ilmu, Hayat,  Qudrat, Iradat, Sama’, Bashar, Kalam, dst.  Memahami sifat Allah ini untuk mengenal Allah lebih dalam lagi dan dengan pengenalan tersebut akan memudahkan kita dalam mengenal Af’al Allah SWT.

Mengenal Af’al Allah dapat dikatakan merupakan buah dari pengenalan kita tentang asma dan sifat Allah SWT dengan baik.  Ujung dari pengenalan ini berkesimpulan bahwa status manusia adalah “La haula walaa quwwata illa billah” (Tidak ada kekuatan selain dengan kekuatan Allah SWT). Terjemahan ini adalah terjemahan pada tataran orang awam saja.  Pada tataran orang yang telah mengenal Allah maka terjemahannya menjadi “Tidak ada kekuatan untuk berbuat kebajikan, dan tidak ada kekuatan untuk menolak kejahatan kecuali dengan kekuatan Allah SWT”.  Kepada saudara-saudara yang belum memahami asma-asma dan sifat-sifat Allah hendaknya jangan ikut-ikutan memaknai arti La haula walaa quwwata illa billah dalam artian yang kedua karena dapat menjadikan saudara salah kaprah dan menyandarkan perbuatan jahat anda kepada Allah SWT.  Seseorang yang mengenal Asma dan Sifat Allah dengan baik akan “terjaga perilakunya” sehingga yang muncul dari mereka hanya perbuatan yang baik dan terpuji saja. Mereka telah dijaga oleh Allah SWT sehingga telah hilang sifat-sifat buruk, sifat-sifat jelek dan sifat ingin menyandarkan perbuatan jahat mereka kepada Allah SWT. Tidak bergerak sebiji zarrah kecuali dengan izin Allah Ta’ala jua.

Tahapan terakhir pengenalan terhadap Allah adalah dengan mengenal ZatNya.  Jangan difahami ini sebagai mengenali “KUNHI” zat Allah atau zat Allah secara Mutlak.  Kita dilarang Allah untuk mencoba mengetahui tentang Zat Allah karena kita tidak akan pernah sanggup melihat Zat Allah.  Kita hanya sampai pada kemampuan memaknai bahwa “Laa Maujudan Bihaqqi Illallah” Tidak ada sesuatu yang maujud (ada dan berbentuk) kecuali Allah SWT Jua. Pengertian ini mengarah pada kesimpulan bahwa semua yang ada dan kita lihat di Alam semesta ini adalah kemazharan (kezahiran) dari Allah SWT.  Bagaimana memahami bahwa Alam semesta ini adalah kemazharan (kezahiran) dari Allah SWT adalah dengan memahami bagaimana proses kejadian seluruh alam semesta ini.  Untuk memahami itu maka perlu untuk mengetahui dan memahami “apa yang mula-mula sekali dijadikan Allah SWT yaitu Nur Muhammad” .  Hal ini akan coba kita ulas pada artikel selanjutnya.

Semoga apa yang saya tulis ini memberi kebaikan kepada kita sekalian. Wassalam.