Entah jadi atau tidak, hari ini tanggal 9 September 2010 rencananya akan dilakukan pembakaran Al-Qur’an oleh pendeta Terry Grant di negara amrik sana.  Semoga saja rencana gila sang pendeta ini tidak jadi dilakukan karena banyak pihak termasuk gereja-gereja lain di amrik dan pihak Vatikan sendiri menentang rencana sang pendeta.

Terlepas dari jadi tidaknya pembakaran tersebut, kita umat islam hendaknya tidak perlu terpancing dengan manuver si pendeta.  Jangan sampai dengan emosional kita kemudian membalas perlakuan si pendeta tersebut dengan aksi yang kita anggap setimpal (baca: melakukan hal yang sama terhadap kitab suci sang pendeta)  dengan apa yang dilakukan si pendeta.  Apa yang dilakukan si pendeta bukanlah cerminan sikap seluruh umat kristen amerika.  Lebih banyak yang menentang rencana nyeleneh si pendeta ketimbang yang mendukungnya.  Perumpamaan dengan hal ini, Nabi SAW pernah bersabda “Jangan engkau maki ibumu”.  Sahabat kemudian bertanya “Bagaimana mungkin kami akan memaki ibu kami sendiri ya rasul ?” Nabi kemudian berkata “Kalian memaki ibu orang lain, lalu orang lain itu kemudian memaki ibu kalian”.

Sebagai umat muslim, kita percaya bahwa al-qur’an memiliki mu’zizat dan pantang untuk dilecehkan.  Siapa yang melecehkannya akan mendapat balasan yang mungkin tak ternalar.  Allah SWT sendiri yang akan menjaga qur’an dan kemurniannya.  Sebuah jaminan yang tak bisa diragukan.  Sang pendeta telah memasuki “area” yang dipandang sangat tabu oleh umat islam.  Kita lihat saja apa yang akan diterima sang pendeta bila ia tetap nekat melakukan aksinya. Ingatlah.. Segala sesuatu yang terjadi di dunia ini adalah pelajaran bagi mereka yang beriman dan berfikir.  Medianya bisa saja sang pendeta.  Sekeras apapun pendeta dan kelompoknya di amrik sana memprovokasi umat islam, kita tidak harus kehilangan kasih sayang kepada semua makhluk tuhan apakah ia beragama islam, kristen, hindu, budha dan kepercayaan lainnya.

30 Ramadhan 1431 H / 9 September 2010.