“Istirahatkan dirimu dari kerisauan mengatur kebutuhan duniamu, sebab apa yang sudah selesai oleh lainmu, tidak usah kamu sibuk memikirkannya.”

Sebelumnya telah kita ketahui tentang bagaimana pandangan syech Ibnu Athaillah tentang takdir. Beliau menyatakan bahwa kekerasan semangat tidak akan dapat menembus tirai takdir.

Dengan bahasa yang lebih lugas, syech memandang bahwa takdir tak bisa diubah. Pendapat beliau ini kembali menjadi latar belakang tentang apa yang beliau sebutkan di hikmah ke 4 diatas. Syech menasehatkan kita agar tidak perlu risau mengatur kebutuhan dunia kita. Kita tak perlu memikirkan secara berlebihan tetek bengek kehidupan. Menyangkut rezeki, jodoh, maut, dan segala tetek bengek lainnya. Hal-hal yang hanya akan membuat banyak manusia menjadi stress, menanggung beban pikiran yang berat dan membuang waktu dengan percuma. Kenapa beliau menyuruh kita berhenti merisaukan hal-hal yang bagi kita sangat penting ? rezeki misalnya, siapa yang tak ingin rezekinya tambah banyak ? siapa yang tak ingin jabatannya bertambah tinggi ? siapa yang tak ingin menjadi orang yang sukses di dunia ? Kenapa beliau menyuruh kita berhenti ikut mengatur ini dan itu padahal itu penting bagi kita ? alasannya sudah beliau sebutkan yaitu “sebab apa yang sudah selesai oleh lainmu, tidak usah kamu sibuk memikirkannya.” Syech menyatakan bahwa semua hal yang dirisaukan oleh manusia selama ini telah selesai diatur oleh “lainmu”. Siapa “lainmu” itu ? Tak lain dan tak bukan adalah “Allah SWT”, sehingga kita manusia tidak usah ikut sibuk memikirkannya karena hanya akan membuang waktu, pikiran, tenaga dan semua sumberdaya yang mestinya dicurahkan hanya untuk keperluan tujuan penciptaan manusia. Apa tujuan penciptaan manusia ? tak lain dan tak bukan kecuali untuk beribadah kepada Allah. Tiada tujuan lain. Kalau ada yang bertanya lalu untuk apa akal diberikan tuhan padahal dengan itu kita dapat berpikir, memilih dan memilah mana yang baik dan buruk ? maka kami akan bertanya balik “adakah hak seorang hamba untuk menentukan pilihan kalau sang majikan sudah menentukan ? ”. Kita sering mengaku sebagai hamba di hadapan tuhan, bahkan mengatakannya pula dihadapan manusia bahwa kita hamba Allah, lalu ketika kita hadir di dunia, pikiran-pikiran keduniaan mulai menguasai pikiran si hamba. Kita berpikir tentang ini dan itu, ribuan ini dan itu. Kita menjadi lupa tujuan penciptaan kita yaitu untuk beribadah kepada Allah. Kita sibuk mengatur urusan dunia kita. Kita senang dan lupa bersyukur ketika apa yang kita inginkan tercapai. Kita kemudian kecewa dan sakit hati ketika apa yang kita inginkan tidak terwujud. Kita lupa Allahlah yang menentukan. Bukan kita. Lalu apa yang dapat kita lakukan dengan akal kita. Akal digunakan untuk mencerna perintah Allah. Menghubungkan satu perintah Allah dengan perintah Allah yang lain. Memikirkan bagaimana melaksanakan perintah Allah dengan sebaik-baiknya. Memilih baik dan buruk adalah dalam konteks memilih bagaimana melaksanakan perintah Allah dengan lebih baik dan menghindari pelaksanaan yang sembrono. Akal manusia mestinya dipola untuk berpikir dalam konteks ibadah, bukan dalam konteks keduniaan. Mana yang lebih baik, shalat atau tidak sholat, mana yang lebih baik, sholat di mesjid atau dirumah, sholat sendirian atau berjamaah, memakai pakaian yang bersih atau yang meragukan kebersihannya dan sebagainya yang menjadikan pelaksanaan ibadah sholat kita menjadi maksimal.Mana yang lebih baik, makan makanan halal atau makanan yang syubhat dan haram. Mana pekerjaan yang halal dan mana pekerjaan yang haram. Semua berujung pada memaksimalkan nilai ibadah. Bukan keduniaan. Selama ini akal kita gunakan untuk hal-hal keduniaan. Satu contoh, si A ingin punya uang banyak tapi tidak memiliki cukup kecerdasan untuk menamatkan kuliah. Akal si A kemudian digunakan untuk mencari pembuat Ijazah palsu. Ijazah palsu kemudian berhasil dibuat. Si A kemudian dapat pekerjaan. Akal si A kemudia digunakan lagi untuk menyikut kanan kiri, menendang ke bawah dan menohok ke atas. Semua bagi si A adalah sah-sah saja dan ia merasa telah menggunakan akalnya dengan baik dan benar. Baginya memiliki banyak uang adalah tujuan dan akalnya dicurahkan untuk itu. Dengan uang yang banyak ia bisa melakukan apa saja. Apa saja. Akal si A tertutup oleh awan hitam sehingga tidak bisa lagi memilih mana yang baik dan mana yang buruk. Harta akan menuntunnya ke banyak jalan maksiat apabila tidak dibarengi dengan pikiran baik dan buruk tentang ibadah. Seandainya pemikiran si A dari awal dibarengi dengan pemikiran dan pemilihan tentang ibadah maka tentu ia tak akan tersesat. Seandainya ia juga berpikir mana yang lebih baik antara shalat dan tidak shalat, atau berfikir mana yang lebih baik antara membuat ijazah palsu dengan tidak membuat ijazah palsu maka tentu ia tak akan tersesat. Mana yang mengandung pahala dan mana yang mengandung dosa. Akal mestinya selalu berpihak kepada kebenaran dan kebaikan dalam konteks ibadah. Bukan diarahkan secara berlebihan ke arah keduniaan semata sehingga akan ada keseimbangan antara dunia dan akhirat. Selama ini akal lebih banyak digunakan untuk dunia. Mau bukti ? mana yang lebih banyak, manusia yang rajin ibadah atau yang lalai untuk beribadah ? kenapa ukurannya menjadi ibadah ? karena tujuan penciptaan manusia adalah ibadah. Bukan kesuksesan, kekayaan atau material lainnya.
Ingat.. pandangan syech Ibnu Athaillah ini didasarkan pada i’tikad beliau tentang takdir. Bagi syech, takdir semua manusia sudah ditentukan dan tidak bisa diubah. Karena itu bagi yang beri’tikad bahwa takdir bisa diubah silahkan pilih jalur pemikiran yang berbeda. Jangan berargumen dan berbantah-bantahan karena kalau ditanya apakah ia yakin 100 persen bahwa takdir bisa diubah maka pasti didalam hatinya akan muncul keraguan. Tapi bagi kami yang berpegang pada i’tikad bahwa takdir tak bisa diubah maka itu adalah harga mati. Kami yakin 1000 persen. Maka bagi kami, dunia hanyalah panggung sandiwara. Setiap orang telah mendapat perannya masing-masing dan tak lepas sedikitpun dari alur cerita yang telah ditetapkan oleh sang Sutradara yaitu Allah SWT. Setiap manusia tinggal menjalani takdirnya. Apa yang bisa kita lakukan adalah melakukan yang terbaik dan menyerahkan hasilnya kepada Allah SWT. Kita adalah hamba tuhan dan seorang hamba adalah terserah kepada Tuhan dan melaksanakan perintah tuhan dengan sebaik-baiknya.