“Setengah dari tanda bersandar diri pada kekuatan amal adalah berkurangnya pengharapan terhadap rahmat Allah ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa”.

Hikmah yang pertama ini bertitik berat pada urusan amal ibadah dan kaitannya dengan kecenderungan hati kita terhadap amal ibadah tersebut. Kenapa dikatakan bertitik berat pada urusan amal ibadah karena pada akhir kalimat hikmah ini disebut tentang kesalahan dan dosa. Kesalahan dan dosa yang menyebabkan kita merasa rahmat Allah menjauh dari kita. Itu berarti, pada keadaan sebaliknya yaitu ketika tidak terjadi kesalahan dan dosa maka kita merasa begitu dekat dengan rahmat Allah.  Kita merasa bahwa amal ibadah kita sudah baik dan layak mendapat ganjaran dengan rahmat Allah.  Kita yakin bahwa rahmat Allah datang karena amal ibadah kita sendiri. Persoalan ini sangatlah halus. Kita merasa diri dan amal kita sudah baik. Bukankah ini mengandung zarrah kesombongan ? Adalah benar bahwa berbuat amal kebajikan merupakan hal yang baik. Adalah benar bahwa Allah menyukai hambanya yang berbuat amal kebajikan. Adalah benar bahwa amal kebaikan dekat dengan pahala dan rahmat Allah. Adalah benar bahwa kesalahan dan dosa berada berseberangan dengan amal kebaikan. Banyak lagi kebenaran yang dapat disebutkan. Tetapi, apakah juga benar bahwa dengan beramal itu lalu kita merasa berhak atas rahmat Allah ? apakah disana tidak terselip rasa besar diri, rasa pantas, takabur dan sombong sehingga begitu yakin bahwa apa yang kita lakukan sudah baik. Anggap bahwa amal kita memang sudah baik, lalu kita merasa bahwa kita pantas mendapat rahmat Allah. Sampai disini boleh kita berkata bahwa kita sudah menjalankan usaha untuk mencapai rahmat Allah.  Waktu berjalan dan iman bisa naik dan turun seperti air laut. Disaat lain, dengan segala sebab, kita kemudian melakukan kesalahan dan dosa. Pada saat itu kita merasa bahwa kita akan kehilangan rahmat Allah. Rahmat Allah yang mana ? Rahmat Allah yang telah kita peroleh dengan amal baik kita dimasa lalu ketika iman kita sedang pasang. Kita kemudian sedih dan merasa bahwa rahmat Allah akan menjauh karena kesalahan yang kita perbuat.  Disini terlihat bahwa kita menghubungkan secara kuat rahmat Allah dengan amal kebaikan kita. Kita memandang kesalahan sebagai sebuah hal yang tidak bermanfaat. Lalu, adakah manfaat dari sebuah kesalahan ?  Jawabannya Ada. Sekarang kita pilih dua pilihan berikut :

Manakah yang lebih baik : Seratus amal kebaikan namun menyebabkan kita merasa sudah bersih diri dan sudah baik amal ibadah dan kemudian merasa kita lebih baik dari orang lain, merasa lebih dekat kepada rahmat Allah dari pada orang lain. Atau, Satu kesalahan yang menyebabkan kita merasa takut kepada Allah, merasa malu kepada Allah, menangis dan merasa lemah tak berdaya di hadapan kehendak Allah. Merasa diri menjadi hina dan merasa menjadi orang yang terburuk di muka bumi karena satu kesalahan yang kita buat tersebut. Mana yang lebih baik ?

Ini urusan hati maka masalahnya menjadi sangat halus. Lebih baik memiliki hati yang tawadhu ketimbang memiliki hati yang merasa sudah mengerjakan amal ibadah dengan baik. Ketika diri merasa sudah baik maka begitu mudahnya sifat takabur dan sombong merasuk ke hati. Bukankah sebiji zarrah kesombongan sudah mampu menghalang kita masuk syurga ?

Disinilah makna bahwa ketika kita merasa berkurang harapan kepada rahmat Allah karena terjadinya kesalahan dan dosa sebagai pertanda bahwa kita telah menganggap bahwa amal ibadah kita seratus persen mampu menggapai rahmat Allah. Padahal kita tahu bahwa begitu banyak perintang di jalan amal. Disana ada Riya, Ujub, Sum’ah, Besar Diri, Sombong, Angkuh dan merasa lebih baik dari orang lain dalam beribadah.

Syech Athaillah menasehatkan kita agar jangan berputus asa dan berkurang pengharapan dari dari rahmat Allah ketika kita melakukan kesalahan karena barangkali kesalahan itu adalah kesalahan yang terakhir yang kita lakukan. Disisi lain syech menginginkan kita tidak bersandar kepada amal semata. Menjaga hati supaya tetap mengharap rahmat Allah baik ketika kita mampu beramal baik maupun ketika kita sedang memiliki amal yang sedikit atau ketika berbuat kesalahan. Allah maha rahman dan maha rahim dan Allah berbuat sekehendakNya tanpa boleh ditanya sebabnya karena akal kita tak akan mampu mencerna rahasia dari perbuatan Allah SWT.

1. Setengah dari tanda bersandar diri pada kekuatan amal usaha, berkurangnya pengharapan terhadap rahmat Allah ketika terjadi suatu kesalahan atau dosa.