Sebelum membaca lebih lanjut artikel ini, ada pertanyaan sederhana yang mesti dijawab yaitu : Andaikan kita memiliki tiket “VIP” untuk masuk ke sebuah acara pertunjukkan dan tiket tersebut diberikan sendiri oleh sang pemilik gedung pertunjukkan, apakah akan ada yang dapat menghalangi kita untuk masuk ke gedung pertunjukkan sedangkan kita memang sangat ingin menonton pertunjukan tersebut ?

Bila jawaban anda “YA, ADA” maka jangan teruskan membaca karena anda berfikir secara rumit dan disibukkan dengan pikiran dan masalah-masalah anda sendiri.

Bila jawaban anda “TIDAK ADA” maka silahkan teruskan membaca kalau mau.

Kembali ke judul artikel diatas yaitu  “SURGA ITU TERNYATA MUDAH UNTUK DIDAPAT”, ternyata memang bahwa bukan hal yang sulit untuk masuk surga apabila kita memiliki “tiket” untuk memasukinya dan tiket ini memang diberikan oleh Allah SWT. Bila ada yang berkata bahwa jalan menuju neraka diwarnai dengan hal yang enak-enak dan nikmat sedangkan jalan menuju surga dipenuhi oleh hal-hal yang menyusahkan, maka kita akan mencoba melihat hal ini dari pandangan yang sedikit berbeda. Jalan menuju surga memang banyak dipenuhi oleh hal-hal yang menyusahkan. Tetapi ketika kita memiliki “Tiket” ke sana, apakah kita akan gagal ke surga ? jawabannya “TIDAK”. Lalu apakah hal-hal yang menyusahkan yang mewarnai jalan ke surga itu juga hilang ? jawabannya juga “TIDAK”,  tetapi “Tiket” itulah yang akan membuat semua hal-hal yang menyusahkan itu tak mampu menghalangi kita masuk surga meski kita terjerembab, terjatuh, dan bahkan terjerat dan terikat tak berdaya dari hal-hal yang menyusahkan tersebut. Tiket itu akan menolong ketika kita tak lagi punya sesuatu kebaikan yang bisa mengantar kita ke surga. Lalu apakah Tiket itu sulit didapat ? Jawabannya kembali “TIDAK”.. hehe..  Mulai penasaran ? betulkan cara duduk anda, kita akan sedikit lebih serius sekarang..

Masih ingat dengan Hadist berikut  ? :

“Sesungguhnya di dalam syurga, ada pintu yang dinamakan pintu DHUHA, maka ketika datang hari kiamat memanggillah (yang memanggil Allah), dimanakah orang yang selalu mengerjakan sembahyang atas Ku dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”. (Riwayat Thabrani dari Abu Hurairah).

Bayangkan ketika kiamat terjadi dan huru hara serta kengerian begitu mencekam dan menakutkan. Semua manusia menjadi takut karena tak tahu nasibnya akan bagaimana serta menyesal tak secara maksimal berbuat kebajikan. Ditengah ketakutan itu kita kemudian mendengar Allah SWT memanggil “dimanakah orang yang selalu mengerjakan sembahyang atas Ku dengan sembahyang DHUHA? inilah pintu kamu, maka masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”.

Horeee.. ternyata kita memiliki “Tiket” itu karena kita selalu membiasakan diri dengan Shalat Dhuha 2 atau 4 rakaat setiap hari. Siapa yang akan berani menghalangi kita untuk memasuki surga melalui “Pintu DHUHA” kalau Allah SWT sendiri yang memanggil kita. Apakah malaikat akan menghalangi ? TIDAK. Apakah dosa-dosa kita akan menghalangi ? TIDAK. Lalu bagaimana dengan dosa-dosa kita ? Apakah akan diampuni ? Naah.. kali ini jawabannya baru “YA” setelah dari tadi jawabannya selalu “TIDAK”.. he.

Bagaimana kita bisa yakin bahwa dosa-dosa itu tidak menghalangi kita memasuki surga melalui pintu DHUHA ?

Perhatikan kalimat “masuklah kamu ke dalam syurga dengan rahmat Allah”.

Ketahuilah.. Tidak ada manusia di dunia ini yang masuk ke syurga dengan amal ibadahnya sendiri.  Seberapapaun banyaknya amal ibadah kita tidak akan mampu mengimbangi besarnya dosa kita. Belum lagi jika kita disuruh menghitung nikmat yang sudah diberikan oleh Tuhan. Kita akan tertunduk malu karena tak ada lagi kebaikan yang tersisa. Surga didapat dengan rahmat Allah.

Anggap kita akan meninggal di usia 66 Tahun. Dikurang 12 tahun untuk masa akil baliq berarti sisa 54 tahun. Separo dari 54 tahun atau 27 tahun kita gunakan untuk tidur.  Separo dari 27 tahun atau 13,5 Tahun kita gunakan untuk bekerja tanpa niat sebagai ibadah. Separo dari  13,5 tahun atau 6,7 tahun kita gunakan untuk perbuatan sia-sia (menggunjing, mengghibah, dll). Jadi tersisa 6,7 tahun untuk ibadah. Bagaimana mungkin 6,7 tahun dari 66 tahun hidup kita akan mengantar kita ke surga ? karena itu, hanya dengan rahmat Allah lah kita semua akan masuk surga .

Dalam beribadahpun kita masih mengharapkan pahala, masih mengharapkan surga, dan masih takut kepada neraka. Ibadah yang dilatarbelakangi oleh keinginan terhadap sesuatu belum memenuhi nilai keikhlasan yang sebenarnya. Ikhlas berarti mulus tanpa embel-embel. Ibadah yang masih ada embel-embelnya tentu tak bisa diharapkan dapat membantu banyak. Karena itu, rebutlah “Tiket” tersebut. Jadikan kita pantas memilikinya. Perolehlah tiket tersebut hanya dengan mengerjakan shalat dhuha setiap hari.

Tentu saja kita tak boleh melemahkan amal ibadah. Tetaplah berbuat kebajikan sebanyak-banyaknya ditambah dengan mengerjakan shalat Dhuha. Berat ? Kita tidak akan tahu seberapa berat sebuah batu sebelum kita mengangkatnya. Shalat dhuha sama sekali tidaklah berat. Tak seberat shalat tahajjud. Kalau kita tak bisa menaklukkan malam dengan tahajjud, maka taklukkanlah siang dengan dhuha. Kalau tetap belum terbuka hati untuk mengerjakan shalat dhuha maka jangan iri lho yaa kalau nanti pas Tuhan berseru seperti hadist diatas ternyata kita tidak memiliki tiketnya.. jadi, dapatkan sebelum terlambat.. hehe..

Semoga ajakan ini bermanfaat, hanya dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar di jalan Tuhan. Mohon maaf kalau ada kata yang kurang berkenan.